Lama tak kulihat senyum merekah indah diwajahnya. Namun, sore itu aku kembali bisa menikmati senyumannya yang mampu meluluhkan segenap ego. Manis sekali senyumnya hari itu. Seakan tahu jikalau aku sedang gundah gulana. Dengan lembut dia mulai menggandeng tanganku. Entah hendak kemana aku dibawanya. Tiap pertanyaan yang keluar dariku hanya dibalas dengan senyum. Hingga tibalah kami di suatu tempat yang bisa dikunjungi berdua.
Sore itu langit sedang cantik-cantiknya. Namun tak mampu menandingi keindahan senyumnya yang selalu kurindukan. Ah, kenapa aku begitu lemah dengan semua ini. Segala amarah, gundah, ego seakan runtuh tak bersisa dihantam gelombang senyumnya. Dia selalu tau cara mengembalikan semangatku, mewarnai hariku kembali. Binar matanya tak ubahnya pelangi setelah badai.
Sore makin terasa syahdu saat dia mulai membangkitkan lagi semangatku. Membakar kembali energi yang sempat padam. Ia selalu ada saat aku terjatuh. Ia selalu jadi yang pertama menguatkan. Semoga ia akan selalu selamanya.
Tiba-tiba aku dikagetkan suara lembut. "kita jadi kemana ini?". Seketika aku tersadar, rupanya aku masih ada diruang tamu rumahnya. Sedari tadi hanya terpukau bentuk senyumnya hingga tak terasa pikiran melayang. Segera kuraih tangannya dan kuajak menikmati sore.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar